Pernah bermimpi kan? Biasanya orang menganggapnya sebagai bunga tidur saja. Tapi ternyata punya hikmah juga di dalamnya. Beberapa mimpi punya makna , diantaranya sebagai terapi jiwa, jawaban dari doa atau peringatan.
Pernah kesal dengan orang? Kita tak berdaya untuk mengungkapkan kemarahan kita, akhirnya tersimpan dalam hati saja, bikin nyesek. Eh kok bermimpi kita punya kekuatan dan kesempatan ngomelin orang yang bikin kesel sampai puas nunjuk-nunjuk ke mukanya. Rasanya ajaib setelah terbangun. Hati jadi plong, jauh lebih ringan karena sudah mengeluarkan sampah melalui mimpi. Subhanallah. Pernah ga ngalamin gini? Ini bisa disebut mimpi sebagai terapi jiwa.
( bersambung)
Ayin Nurby
Minggu, 07 Oktober 2018
Rabu, 07 Maret 2018
Tantangan Waktu Subuh
Sudah menjadi kewajiban seorang muslim untuk bangun di awal pagi untuk melaksanakan kewajiban sholat subuh. Mungkin mudah bagi Ibu dan Ayah melaksanakannya karena sudah terbiasa. Tapi bagaimana dengan anak? Banyak orangtua yang merasakan kesulitan membangunkan anak di awal pagi untuk melaksanakan sholat subuh.
Jangan sampai seperti kejadian saat saya mengajar privat ngaji dulu. Ada Ibu yang mengeluhkan anaknya tidak sholat subuh. Di depan anaknya sang Ibu curhat dengan saya, " Iya nih... Kan sayang banget, sholat waktu yang lain rajin. Tapi kalau subuh ga pernah. Bangunnya siang melulu."
Anaknya menyanggah, " Apaan... Udah bangun jugaaa, tapi takut mau wudhu sendirian. Mamah dibangunin ga bangun-bangun. Mamah juga ga sholat Subuh! "
Duh, wajah Mamah berubah memerah.
Ya, keteladanan sangat diperlukan dalam mendidik anak. Ingin anak rajin, tentunya orangtua harus nampak rajin di mata anak. Begitupun dengan pelaksanaan sholat, khususnya saat Subuh. Hendaknya orangtua memberikan contoh, memperlihatkan bahwa mereka pun melaksanakan sholat subuh dan mendukung anak untuk bisa melakukan sholat subuh.
Lalu bagaimana caranya mendukung anak melaksanakan kewajibannya? Ya, sejak masa belum balighnya anak, orangtua harus sudah mempersiapkan melalui pembiasaan sehari-hari. Termasuk sholat subuh. Ibu bisa menerapkannya sejak anak usia sekolah TK. Awali membangunkan anak dengan mengingatkan untuk sholat subuh, bukan untuk sekolah.
Bangunkan anak dengan lembut dan suara perlahan sambil mengelus kepalanya, sampai anak membuka mata. Lalu bacakan do'a bangun tidur. Minta pada anak untuk segera berwudhu, tentunya ditemani ya, Bu. Nah di sinilah perjuangan seorang Ibu.
Butuh kesabaran ekstra menghadapi rengekan dan drama anak. Seperti anak saya, sudah bangun dari tempat tidur dan keluar kamar untuk berwudhu, tapi saat terjumpa kursi panjang di luar kamar, dia kembali menjatuhkan diri di situ. Terus bangunkan saja, tuntun dia sampai ke tempat wudhu. Ya, biasanya akan ada tangisan, rengekan, keluhan, bahkan marah. Itu respon yang wajar karena merasa tidurnya terganggu.
Biarkan saja jika anak melaksanakan sholatnya dengan wajah cemberut, yang penting dia melaksanakan sholat dan sudah terprogram dalam mindset-nya untuk bangun pagi karena harus melaksanakan sholat subuh. Biasanya setelah sholat, kerewelan itu akan hilang. Bahkan anak saya sering mengucapkan terima kasih sudah dibangunkan untuk sholat subuh. Walaupun sebelumnya sungguh menantang kesabaran.
Yuk para Ibu, semangat membangunkan anak di awal pagi untuk melaksanakan sholat subuh. Agar tiba waktu balighnya nanti, anak kita sudah merasa ringan melaksanakan kewajiban sholatnya.
Biarkan saja jika anak melaksanakan sholatnya dengan wajah cemberut, yang penting dia melaksanakan sholat dan sudah terprogram dalam mindset-nya untuk bangun pagi karena harus melaksanakan sholat subuh. Biasanya setelah sholat, kerewelan itu akan hilang. Bahkan anak saya sering mengucapkan terima kasih sudah dibangunkan untuk sholat subuh. Walaupun sebelumnya sungguh menantang kesabaran.
Yuk para Ibu, semangat membangunkan anak di awal pagi untuk melaksanakan sholat subuh. Agar tiba waktu balighnya nanti, anak kita sudah merasa ringan melaksanakan kewajiban sholatnya.
Hikmah di Suatu Pagi
Pagi itu adalah pagi pertamaku bisa mengantar anak sekolah dengan santai setelah aku resign bekerja dengan banyak pertimbangan. Setelah mengantar anak sampai sekolahnya, aku pulang melalui jalan berbeda. Kulewati pasar yang sibuknya luar biasa. Jalan depan pasar sedikit macet karena keramaian. Aku bisa melihat semua orang sedang bekerja. Abang becak yang menunggu penumpang, pengantar es batu balok, jasa bawa barang belanja, ibu-ibu pedagang...Ah, aku baru merasakan lagi hiruk pikuk seperti ini setelah 5 tahun berlalu. Aku sangat menikmati perjalanan pagi itu dengan motor setiaku.
Aku masuk jalan-jalan kecil alias gang yang padat penduduk di tengah kota. Jalan yang hanya bisa dilalui dengan motor dan becak saja. Kesederhanaan orang-orangnya sangat terlihat. Aku melihat dua anak perempuan kecil berlari riang menyambut seseorang di belakangku. Usia mereka sekitar 4 dan 5 tahunan. Kuperlambat laju motorku hingga aku dapat melihat siapa yang mereka sambut. Ternyata seorang bapak yang mengendarai becak. Dia membawa satu sepeda kecil berwarna merah yang cat nya sudah buram dan terkelupas. Bukan sepeda baru. Bapak itu menghentikan becaknya setelah kedua anak perempuan itu berhenti di depan becaknya. Mereka tampak gembira.
Aku melihat binar bahagia di mata anak dan bapak itu. Sepertinya sang anak sudah lama mendambakan memiliki sepeda, Sementara sang bapak merasa bahagia dan lega bisa memenuhi keinginan anaknya sesuai kemampuannya. Keduanya mengucapkan Alhamdulillah. Keharuan tiba-tiba menyelimutiku. Ya Tuhan, ternyata untuk berbahagia itu tidaklah sulit. Cukup dengan rasa menerima apa yang ada dengan penuh rasa syukur. Aku merasa diingatkan kembali untuk terus bersyukur dalam kondisi apapun.
Gambar : poskotanews.com
Langganan:
Postingan (Atom)

