Rabu, 07 Maret 2018

Hikmah di Suatu Pagi

Pagi itu adalah pagi pertamaku bisa mengantar anak sekolah dengan santai setelah aku resign bekerja dengan banyak pertimbangan. Setelah mengantar anak sampai sekolahnya, aku pulang melalui jalan berbeda. Kulewati pasar yang sibuknya luar biasa. Jalan depan pasar sedikit macet karena keramaian. Aku bisa melihat semua orang sedang bekerja. Abang becak yang menunggu penumpang, pengantar es batu balok, jasa bawa barang belanja, ibu-ibu pedagang...Ah, aku baru merasakan lagi hiruk pikuk seperti ini setelah 5 tahun berlalu. Aku sangat menikmati perjalanan pagi itu dengan motor setiaku.  

Aku masuk jalan-jalan kecil alias gang yang padat penduduk di tengah kota. Jalan yang hanya bisa dilalui dengan motor dan becak saja. Kesederhanaan orang-orangnya sangat terlihat. Aku melihat dua anak perempuan kecil berlari riang menyambut seseorang di belakangku. Usia mereka sekitar 4 dan 5 tahunan. Kuperlambat laju motorku hingga aku dapat melihat siapa yang mereka sambut. Ternyata seorang bapak yang mengendarai becak. Dia membawa satu sepeda kecil berwarna merah yang cat nya sudah buram dan terkelupas. Bukan sepeda baru. Bapak itu menghentikan becaknya setelah kedua anak perempuan itu berhenti di depan becaknya. Mereka tampak gembira.

Aku melihat binar bahagia di mata anak dan bapak itu. Sepertinya sang anak sudah lama mendambakan memiliki sepeda, Sementara sang bapak merasa bahagia dan lega bisa memenuhi keinginan anaknya sesuai kemampuannya. Keduanya mengucapkan Alhamdulillah. Keharuan tiba-tiba menyelimutiku. Ya Tuhan, ternyata untuk berbahagia itu tidaklah sulit. Cukup dengan rasa menerima apa yang ada dengan penuh rasa syukur. Aku merasa diingatkan kembali untuk terus bersyukur dalam kondisi apapun.

Gambar : poskotanews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar